Remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak
menuju dewasa, hal ini bisa ditandai dengan adanya perubahan seperti fisik dan
psikis. Pada masa remaja inilah orang-orang menyebutnya sebagai masa pencarian
jati diri. Akan tetapi, sering kali dalam pencarian jati diri ini remaja
cenderung salah dalam bergaul. Sehingga, banyak yang menyimpang dari
norma-norma yang ada di masyarakat. Perilaku penyimpangan inilah yang disebut
sebagai kenakalan remaja.
Sesuai dengan pendapat para ahli, salah satunya
Kartini Kartono (2011 : 6) menjelaskan kenakalan remaja adalah perilaku jahat,
atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis)
secara sosial pada anak-anak karena pengabaian sosial.
Kasus kenakalan remaja yang banyak terjadi saat ini
adalah bolos sekolah. Bolos sekolah dikalangan pelajar bukan sesuatu hal yang
baru. Hal ini sudah terjadi sejak dulu. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
mengatakan saat membuka rapat terkait Strategi Peningkatan Peringkat Indonesia
dalam Programme for International Student Assessment (PISA), di Istana Merdeka,
Jakarta Pusat, Jumat (3/4/2020) tingginya ketidakharidaran siswa di kelas
menjadi salah satu penyebab turunnya kuliatas pendidikan di Indonesia.
Perilaku membolos ini dilakukan, pelajar dengan cara
tetap pergi dari rumah dengan pakaian berseragam rapi, tetapi mereka tidak
berada di sekolah. Atau bisa saja mereka datang ke sekolah hanya di mata pelajaran
tertentu, kemudian mereka meninggalkan kelas dengan berbagai alasan yang mereka
buat-buat. Perilaku bolos sekolah ini terjadi salah satunya karena siswa
mengalami kejenuhan dalam proses pembelajaran atau ada masalah dengan guru atau
temannya.
Faktor utama penyebab perilaku bolos sekolah ini ada
dua yakni, faktor eksternal dan faktor internal. Factor ekstenal ini biasa
muncul dari luar yang mempengaruhi siswa. Misalnya, metode belajar yang tidak
sesuai dengan dirinya. Sehingga siswa merasa bosan dan jenuh terhadap proses
pembelajaran. Selanjutnya, pengaruh dari teman-temannya untuk membolos, dengan
mengatasnamakan solidaritas dan takut dikucilkan sehingga siswa mau untuk
diajak membolos. Kemudian factor internal yang terjadi di dalam diri siswa itu
sendiri. Misalnya, kurang motivasi belajar, dan juga rasa malas. Namun, apapun
penyebabnya perilaku bolos sekolah ini akan dapat merusak citra atau nama baik
sekolah.
Melihat berbagai persoalan tersebut, ada beberapa
upaya yang bisa diambil untuk meminimalisasikan perilaku bolos sekolah. Pertama,
peran guru dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas harus lebih
dioptimalkan lagi agar siswa tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kedua, guru juga harus melakukan pengenalan terhadap apa yang menjadi minat
dari tiap-tiap siswa. Ketiga, peran bimbingan konseling melalui berbagai
pendekatan personal kepada siswa, diharapkan siswa itu dapat terbuka mengenai
permasalahan yang dihadapinya. Sehingga, pembimbing dapat memberikan solusi
terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa. Keempat, peran orang
tua juga termasuk didalamnya, karena umumnya seorang anak yang melakukan
perilaku pelanggaran norma-norma biasa karena kurangnya perhatian orang tua
terhadap anaknya. Sehingga anaknya seolah apa yang dilakukan itu benar, tanpa
adanya nasihat, atau bentuk perhatian orangtua.
Masa depan berada di tangan remaja, maka sudah
sepatutnya sebagai remaja untuk menjalankan kewajiban mengeyam pendidikan dalam
rangka meningkatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Sehingga diharapkan mampu
untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang ada di negara Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar