![]() |
| Pertujukan kesenian Burok Mekar Karya Budaya |
Seni burok menjadi sebuah bentuk seni arak-arakan
yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Cirebon. Biasanya, seni burok ini
dipertunjukan dalam rangka upacara khitanan. Dalam
penampilannya yang penuh warna dan energetik, seni burok tidak hanya menghibur
tetapi juga mengandung makna mendalam. Setiap gerakan dan kostum yang
dipertunjukkan oleh para seniman burok membawa cerita sejarah, mitologi, dan
nilai-nilai kehidupan masyarakat Cirebon. Menurut
cerita dari penduduk setempat, seni burok dianggap sebagai warisan budaya yang
menjadi identitas khas desa Kalimaro, karena kesenian ini pertama kali muncul
di desa tersebut.
Selain dianggap sebagai salah satu warisan budaya
yang dimiliki Kabupaten Cirebon, seni Burok juga dinilai menyimpan berbagai
filosofi masyarakat Cirebon yang dikenal sebagai masyarakat yang religius. Seni
burok ini menjadi simbol penting dalam peralihan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan,
dan dipandang sebagai simbol telah meningkatnya nilai religi seseorang. Seni
burok adalah hasil visualisasi dari peristiwa Isra Mi’raj, yang merupakan
perjalanan malam Nabi Muhammad SAW ke langit. Oleh karena itu, pada awalnya
seni burok berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam. Namun kini
setelah mengalami perkembangan zaman seni burok menjadi pelengkap dalam upacara
khitanan.
Perkembangan yang terjadi pada seni burok ini
dipengaruhi seni modern yang menjadi minat baru masyarakat. Minat masyarakat
terhadap seni modern mempengaruhi perkembangan seni burok dari tahun ke tahun,
hal ini dapat dilihat pada iringan musik yang mulanya menggunakan genjring (rebana)
yang kental dengan nilai-nilai Islamnya, kemudian tergantikan oleh organ
tunggal hingga tarlingan. Dahulu, pertujukan seni burok mememasukan lantunan
sholawatan dengan iringan genjring, namun saat ini seni burok hanya dianggap
sebagai salah bentuk seni hiburan dengan nilai komersial, karena diubah menjadi
bisnis oleh seniman burok.
![]() |
| Gambar wawancara dengan pemilik burok |
Menurut hasil wawancara dengan salah satu pimpinan
kesenian burok, yang bernama Mekar Karya Budaya (MKB) yang dipimpin oleh Faris
Rafi Firdaus yang masih berumur 20 tahun, ini menyatakan bahwa awal
terbentuknya kesenian burok MKB yang dia pimpin ini bermula dari kesukaan
dirinya terhadap kesenian yang ada di kabupaten Cirebon khususnya kesenian burok.
Karena menurutnya kesenian burok ini memiliki daya tarik tersendiri dan sangat
disukai oleh kalangan anak-anak. Dibandingkan dengan kesenian lain kesenian burok
ini menjadi salah satu kesenian yang ramai peminatnya.
Kesenian burok MKB ini telah berdiri sejak tahun
2014, dengan kepemimpinan sah dan resmi oleh Faris Rafi Firdaus. Menurutnya,
keistimewaan dari seni burok ini, dibandingkan dengan seni burok lain, terletak
pada cerita pewayangannya. Secara umum, di akhir pertunjukan burok ini, selalu
ada satu cerita pewayangan, khususnya cerita Rahwana gugur.
“Rahwana itu terkenal dengan ilmu rawa rontek yang
dimana kepala yang sudah dipenggal akan bisa nyatu lagi ke dalam tubuhnya,
diceritakan bahwa selain Hanuman tidak ada yang bisa untuk melawan kesaktian
Rahwana, didatangkanlah kakaknya namanya Sugriwa, sebelum Hanuman datang yang
ngadepin Gerandong (bala tentaranya Rahwana) itu Sugriwa terlebih dahulu.
Kemudian setelah Gerandong dan bala tentaranya Rahwana kalah. Sugriwa mencoba
untuk melawan Rahwana, Namun usahanya itu gagal alhasil Sugriwa memanggil
adiknya Hanuman untuk membantu membunuh Rahwana. Kemudian, akhirnya Rahwana pun
bisa dikalahkan”. Ujar Faris pemilik burok.
Biasanya iring-iringan burok ini terdiri barongsai
dibarisan pertama, kemudian disusul dengan kedua burok itu sendiri.
Perwujudannya hewan seperti kuda memiliki empat kaki namun dibagian kepalanya
berwujudkan kepala bidadari yang sangat ayu dan anggun, kemudian disusul
dibarisan ketiga ada naga atau singa gotong yang merupakan patung atau boneka
yang menyerupai naga atau singa dengan cara dipikul oleh empat orang pemain.
Kemudian, para pemain tersebut menari mengikuti lantunan musik yang ada. Lanjut
dibarisan keempat ada jejangkungan yang merupakan orang yang berjalan
menggunakan dua bambu yang diikat di kaki, sehingga orang tersebut terlihat
tinggi. Dibarisan paling akhir ada panggung dorong, yang berisikan alat-alat
musik sebagai pengiring dari seni burok itu sendiri.
“Kesenian burok MKB ini memiliki semacam julukan
atau moto selalu tampil beda, artinya setiap manggung entah itu beberapa tahun
atau bulan selalu menampilkan yang berbeda. Misalnya, tahun ini memiliki naga,
burung tahun berikutnya dijual lalu beli lagi yang baru. Agar masyarakat tidak
merasa bosan.” Ujar Faris.
Kepuasan batin dan rasa bangga dirasakan oleh orangtua ketika melihat anaknya mampu menaiki burok, diarak keliling kampung, dan dilihat oleh banyak orang. Sepanjang rute yang dilalui akan tampak tatapan dan sikap kekaguman masyarakat partisipan dalam arak-arakan atau yang hanya sekedar menonton di pinggir jalan. Semua penonton terlihat menikmati jalannya pertujukan seni burok. Kondisi ini menunjukan pertunjukan seni Burok dapat memvisualisasikan kedudukan dan martabat seseorang di masyarakat.
![]() |
| Foto bersama pemilik burok Mekar Karya Budaya |



karya tulisnya begitu menginspirasi, teruskan dan semangat!!!^^
BalasHapusBagus sekali karya tulis nya
BalasHapusTerima Kasih thor, sangat menambah wawasan kita semua. Semangat terus🔥
BalasHapuswihh karya tulis nya sangat bagus, semangat terus yaa
BalasHapusWah hebat,Isinya sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang kebudayaan Cirebon 🙏
BalasHapuskaryanya sangat bermanfaat.
BalasHapuslanjutkan dan semangat!!!
pengetahuan baru
BalasHapuswah keren sangat bermanfaat, semangat terus
BalasHapusSangat bagus dan bermanfaat menambah pengetahuan saya
BalasHapuswoww semoga kesenian burok dapat dipertahankannn, sangat menarik dan unikkk. supaya tradisi ini bisa ditonton generasi-generasi berikutnya!! semangattt!!!
BalasHapusWah keren tulisannya. Jadi bisa menambah pengetahuan
BalasHapuskeren sekali tulisannya, kita bisa mengetahui lebih dalam mengenai kesenian burok ini!
BalasHapusKarya yang mampu menambah pengetahuan tentang sejarah dari kesenian
BalasHapusWahh tulisannya sangat informatif sekali
BalasHapusbagus keren
BalasHapus